Senin, 04 Desember 2023

Desain Pembelajaran ICT

 Dalam proses pembelajaran dikenal berbagai pola pembelajaran. Pola pembelajaran adalah model yang menggambarkan kedudukan dan peran guru serta peserta didik dalam proses tersebut. Maka dalam proses pemanfaatan media pembelajaran berbasis ICT dalam pembelajaran PAI, dan penggunaan media harus didasarkan pada pertimbangan bahwa media tersebut dapat memfasilitasi terjadinya proses belajar dan dapat meningkatkan pemahaman serta memberikan kemudahan terhadap materi yang disampaikan. Dengan itu, guru harus menyesuaikan antara materi dengan media yang digunakan.  


Kita bisa mengambil sebuah contoh materi yang disajikan, yakni pembahasan tentang bersuci, khususnya kajian tentang berwudu’. Maka, media pembelajaran yang digunakan ialah gambar, dan slide Power Point, serta video. Pemilihan media tersebut berdasarkan suatu pertimbangan bahwa tujuan materi tersebut untuk memberikan pemahaman dan keterampilan berwudu’ secara baik dan benar. Maka, pertama, guru mendemonstrasikan materi dengan menggunakan gambar yang tidak bergerak. Gambar tersebut mendemonstrasikan langkah-langkah dalam berwudu’. Kedua, guru memanfaatkan slide power point untuk menjelaskan bacaan yang digunakan dalam berwudu. Dan ketiga, video. berfungsi untuk mendemostrasikan tata cara berwudu yang baik dan benar, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mempraktikkan tata cara tersebut. Di samping, murid bisa belajar secara mandiri di luar kelas.

Minggu, 22 Januari 2023

Peran Teknologi Bagi Pendidikan Islam

 1.1 Peran Teknologi Pendidikan Dalam Pendidikan Islam


        Kata teknologi merupakan suatu hal yang lumrah terdengar di kalangan masyarakat entah   itu di   kota-kota besar   maupun di kota-kota kecil,   karena penggunaan teknologi sudah menjadi kebutuhan dalam keseharian bagi masyarakat tanpa  mengenal  waktu  dan  di mana pun  pada  zaman  ini.   Tidak  hanya  itu saja, penggunaan teknologi banyak diaplikasikan dalam segala bidang untuk mendapatkan suatu informasi dan berkomunikasi secara langsung maupun tidak langsung. Bidang pendidikan merupakan suatu  lembaga  yang  memiliki  struktur  teratur  di dalamnya pada mata pelajaran dengan contoh pendidikan agama Islam yang diampu sejak dini untuk  mengatur tingkah  laku  manusia dalam bersosial,  sehingga  bisa  membedakan mana  yang  benar  dan  mana  yang  salah  dalam  bersosialisasi  tanpa seharusnya melanggar aturan. 
    
        Dalam   mengembangkan   peran   teknologi   dalam   pendidikan agama   Islam dengan  aktivitas proses pembelajaran agar  lebih  efektif  dalam  pembelajaran  bisa melalui teknologi. Yang harus diketahui oleh peserta didik adalah teknologi berfungsi sebagai alat yakni kebutuhan teknologi sebagai alat yang mengantarkan peserta didik untuk    membantu    proses    pembelajaran    dan    mengantarkan    seorang    guru menyampaikan  proses  pembelajaran  menggunakan  teknologi,  maka  teknologi  ini dijadikan   sebuah    alat   proses   pembelajaran   pendidikan   agama    Islam   untuk menyampaikan  materi-materi  pendidikan  agama  Islam.  Sehingga  tercapailah  dari suatu  pembelajaran  pendidikan  agama  Islam  itu  disampaikan  dengan  teknologi pendidikan, karena dengan situasi  yang  tidak memungkinkan untuk  bertatap muka langsung sebagaimana yang kita lakukan pada saat musim pandemi. 
       
 Teknologi  sebagai  perantara  atau  bisa  disebut  dengan  bahan  pengiriman pengetahuan peserta  didik  mengendarai  dalam  proses  pembelajaran,  sedangkan seorang  guru  bisa  menyampaikan  materi-materi  pendidikan  agama  Islam  kepada peserta didiknya ketika di ruang kelas jam pelajaran. Di situlah sebuah disiplin ilmu bahwasanya   teknologi   pendidikan berfungsi   sebagai   ilmu   pengetahuan   yang seharusnya di kuasi oleh guru pendidikan Islam, karena saat ini gadget bukan hanya berfungsi  sebagai melihat  media  sosial  saja  melainkan  waktu  yang  tepat  untuk menggunakan proses media pembelajaran melalui gadget, sehingga media sosial itu berfungsi sebagai bahan mencari ilmu pengetahuan untuk belajar mengajar.

Referensi: Jurnal  Dirosah  IslamiyahVolume4Nomor2(2022) 174-183P-ISSN 2656-839xE-ISSN 2716-4683DOI:10.17467/jdi.v4i2.692176|Volume 4 Nomor 2 diakses dari (https://journal.laaroiba.ac.id/index.php/jdi/article/view/692)

1.2 Contoh Pemanfaatan Teknologi Dalam PAI

Komunikasi elektronik telah menjadi salah satu strategi terbaru untuk mendukung proses pembelajaran. Aspek paling penting dalam proses pembelajaran adalah kemampuan peserta didik dan pengajar untuk
melakukan komunikasi tanpa batas waktu. Proses pembelajaran secara konvensional menggunakan aktivitas yang ada di kelas begitu kegiatannya selesai, maka interaksi juga usai. Oleh karena itu, komunikasi di kelas konvensional bersifat statis.
Dunia teknologi informasi kini memberikan banyak pilihan kepada semua orang. Tak terkecuali Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI). Misalnya e-dukasinet/ pembelajaran berbasis internet, penggunaan telematika, elearning, blog, multimedia resources center, teknologi pembelajaran melalui komik, dan
vidio conference. Ada beberapa contoh pemanfaatan teknologi yang dapat
dimanfaatkan dalam pembe-lajaran PAI,9
yaitu:
a. Teknologi Informasi Berbasis Visual
1) Penggunaan program powerpoint dalam proses pembelajaran PAI dikelas. Melalui program tersebut,
guru tinggal menulis poin-poin penting materi yang akan disampaikan. Ada pemandangan baru di basis visual siswa. Sehingga bisa mengatasi kejenuhan dalam belajar.
Contoh :
Gambar 1. Penggunaan Power point dalam Pembelajaran PAI



2) Agar lebih menarik, bisa juga guru menggunakan program macromedia flash.
Tidak hanya tulisan yang dapat disampaikan ke peserta didik, tetapi juga dapat menampilkan suara atau video yang berkaitan dengan materi tersebut. 
b. Teknologi Informasi Berbasis Audio
1) Penggunaan teknologi informasi yang berkenaan dengan pendengaran siswa
2) Penggunaan audio streaming, yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dengan basis pendengaran.
Gambar 2. Penggunaan Teknologi Informasi Berbasis Audio
c. Teknologi Informasi Berbasis Visual-Audio Penggunaan CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif. Dengan menggunakan film, maka siswa akan mendapatkan pengetahuan dari basis audio dan visual. Contoh dari nilai karakter film Habibi dan Ainun dalam PAI.
d. Teknologi informasi berbasis Internet
1) E-mail
Menggunakan e-mail untuk mengumpulkan tugas dari peserta didik. Sekarang ini yang biasa dilakukan guru kepada peserta didik dalam mengumpulkan tugas melalui buku atau kertas. Pengumpulan tugas melalui email tersebut sekaligus mendidik kepada peserta didik untuk mengurangi global warming (pemanasan global). Kita tahu bahwa bahan baku kertas adalah berasal dari kayu. Artinya semakin banyak peserta didik menggunakan kertas, maka bertambah banyak penebangan kayu untuk bahan baku kertas. Tidak salah kalau sekarang ini hutan di Indonesia sekarang semakin berkurang. Karenanya, hal ini peserta didik dilatih untuk mencegah global warming sekaligus menyelamatkan dunia melalui meminimalisir penggunaan kertas.
2) Mailing list
Menggunakan list mail untuk diskusi kelas yang diajarkan. Melalui mailing list guru dapat membuat
grup atau kelompok sendiri, bisa berupa satu kelas atau satu sekolah untuk berkomunikasi. Di sini guru
PAI menginformasikan materi pembelajaran yang akan disampaikan pada pertemuan ke depan via mailing list. Sedangkan seluruh anggota grup akan mengetahuinya dalam waktu yang bersamaan. Saat
itu juga peserta didik dapat men-download materi tersebut dari rumah atau dimana pun tempatnya asal ada jaringan internet. Selain itu, melalui mailinglist guru dapat membuka ruang diskusi dengan peserta didik. Selama ini peserta didik kesempatan bertanya masih terbatas di ruang kelas, melalui program tersebut guru dapat membantu permasalahan yang dihadapi peserta didik kapan pun dan di manapun mereka berada.
3) Web blog dan e-learning.
Menggunakan web blog untuk pembelajaran di dalam atau luar kelas. Ketika disebut web blog, banyak guru yang bertanya-tanya pasti mahal biayanya. Memang untuk website yang komersial, pengguna (user) harus membayar sesuai dengan tarif, tetapi untuk web blog, pengguna tidak harus membayar
alias gratis. Dibanding dengan fasilitas ICT, web blog lebih sempurna. Diantara kelebihannya adalah guru dapat menampilkan semua karya atau hasil pemikiran yang dimiliki.

referensi:file: Jurnal TAMADDUN – FAI UMG. Vol. XIX. No.1 / Januari 2018



Tips Membuat Suasana Kelas Menyenangakan

Tips  Membuat Suasana Kelas Menyenangkan

Belajar di dalam kelas yang menyenangkan tentu menjadi harapan bagi semua siswa. Mereka menginginkan proses belajar yang nyaman, sehingga lebih mudah berkonsentrasi. Suasana tenang dan kondusif merupakan faktor untuk bisa menunjang fokus belajar dan efektivitas mengajar. 

Untuk bisa menciptakan suasana tersebut peran guru sangat dibutuhkan. Jadi guru harus bisa memahami kondisi sosial anak. Kegiatan pembelajaran bisa berjalan dengan lancar, pastikan mengontrol siswa dan memberikan arahan yang baik.

Tips Membuat Suasana Kelas Menyenangkan

Ada beberapa tips yang bisa kamu coba agar suasana kelas menyenangkan ketika proses belajar mengajar, seperti berikut.

1. Ciptakan Suasana Berbeda

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menciptakan suasana yang berbeda. Kebanyakan posisi duduk siswa di sekolah hampir semuanya sama, guru berada di depan dan kursi siswa disusun belajar membentuk persegi. Metode tersebut sebenarnya kurang efektif sebab proses belajar terjadi hanya pada satu arah yaitu guru. 

Agar membuat suasana di kelas menyenangkan, cobalah susun ulang ruangan kelas seperti posisi meja dan kursi yang melingkar. Jadi posisi guru berada di tengah-tengah dan siswa dapat melihat guru dengan baik. Guru juga bisa mencoba untuk menggunakan metode mobile teaching,  jadi guru bisa membantu murid untuk menjelaskan tentang materi dan lain sebagainya. 

Metode tersebut dapat membantu murid untuk lebih rileks dan menciptakan suasana belajar menyenangkan bersama dengan guru. Jadi mereka akan merasa sedang belajar bersama guru bukan diajari oleh guru.

2. Lakukan Interaksi Untuk Mengeluarkan Ide

Sebagai seorang pengajar kamu juga bisa mencoba untuk memberikan perhatian penuh ketika sedang di kelas. Jadi guru bisa memancing pendapat atau melakukan diskusi dengan murid. Tidak semua anak bisa leluasa untuk mengeluarkan ide mereka. Sebagai seorang pengajar, kamu harus percaya pada kemampuan masing-masing anak sehingga mereka berani mengeluarkan pendapat dan mampu menghargai apapun yang mereka ucapkan.

Cara tersebut bisa melatih anak untuk belajar mendengarkan orang lain, melatih anak lebih berani untuk mengeluarkan pendapat dan berbicara tentang perbedaan. Cara ini sangat penting karena mereka bisa berinteraksi dengan orang lain  tanpa malu dan rasa takut, baik kepada guru maupun teman.

3. Manfaatkan Teknologi

Membuat suasana kelas menyenangkan, cobalah memanfaatkan teknologi yang ada. Jika hanya menjelaskan dengan menulis di papan tulis maka metode tersebut kurang menarik untuk era saat ini. Penggunaan teknologi bisa membantu guru menciptakan suasana aktif di dalam kelas. 

Kamu bisa menggunakan bantuan laptop, internet, dan proyektor, sehingga bisa merubah materi menjadi audio visual. Kamu bisa mencari berbagai macam video yang selaras dengan materi yang akan disampaikan. Cara tersebut akan membuat anak lebih fokus dan menangkap materi yang disampaikan.

4. Menjadi Humoris

Memiliki sifat humoris di dalam kelas juga bisa membantu kamu untuk mendapatkan kesempatan menciptakan suasana yang menyenangkan. Hampir semua siswa pasti suka dengan guru yang humoris. Tidak hanya itu, tetapi sifat humoris yang dimiliki oleh buruh bisa memberikan Efek kedekatan antar siswa loh.

Makin murid dekat dengan gurunya mata apa yang disampaikan juga akan mudah diserap.

5. Berikan Banyak Perhatian

Pastikan kamu memberikan banyak perhatian pada semua siswa tanpa kecuali. Menjadi seorang pengajar, terkadang kamu lebih cenderung untuk memperhatikan murid yang pintar dan aktif di dalam kelas aja. Sedangkan anak yang diam kesulitan mendapatkan kesempatan untuk menuangkan ide maupun mengaktualisasikan dirinya di dalam kelas.

Membuat suasana kelas menyenangkan adalah tugas seorang pengajar. Pastikan membuat suasana kelas menjadi lebih menyenangkan dengan beberapa cara di atas. Dengan begitu fokus anak akan meningkat dan bisa menyerap pelajaran dengan baik nantinya. 


Referensi:https://www.universitas123.com/news/tips-membuat-suasana-kelas-menyenangkan

Senin, 02 Januari 2023

Makalah Memanusiakan Manusia

 

MAKALAH MEMANUSIAKAN MANUSIA

Diajuakan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar-Dasar Komputer dan Jaringan Internet

Dosen Pengampu : Yan Yan Nurjani, M.Pd

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Susi (21210021)

 

 

 

 

 

 

PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)

AL-MUSADDADIYAH GARUT

2022M/1444H



Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Pelindung semua makhluk dan tempat mengadu semua hamba yang beriman. Saya bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang telah diberikannya, baik nikmat iman, nikmat Islam, nikmat ihsan dan nikmat diberikannya kesehatan dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Memanusiakan Manusia”.

Sholawat bertangkaikan salam ditunjukan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, manusia teladan (Uswah Hasanah) untuk setiap tindakan yang kita lakukan. Tidak lupa ditunjukan untuk keluarganya para sahabatnya, para tabiin atbauttabiin, hingga sampailah kepada kita yang mudah mudahan mendapatkan safaatnya nanti di Yaumil Qiyamah, Aaamin.

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi Tugas pak Yan Yan Nurjani M.Pd selaku dosen pada bidang studi Daskomnet. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang “Memanusiakan Manusia” bagi para pembaca dan juga bagi saya selaku penulis.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak teman seperjuangan yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Bagi saya sebagai penulis merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

Garut, 31 Desember 2022



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah upaya manusia untuk “memanusiakan manusia”. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibandingkan makhluk lain ciptaan-Nya disebabkan memiliki kemampuan berbahasa dan akal pikiran/rasio, sehingga manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia yang berbudaya. Kemampuan mengembangkan diri dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

Sains berasal dari kata science yaitu istilah yang mengacu pada masalahmasalah kealaman (nature). secara sederhana sains didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala alam. Sains juga merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang terdiri dari fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori-teori yang merupakan produk dari proses ilmiah.

Namun demikian sebenarnya sains bukan hanya sebuah produk, melainkan juga sebagai proses yang menghubungkan sistem, metode atau proses pengamatan, pemahaman dan penjelasan tentang alam, seperti yang di tulis dalam salah satu situs internet yang menyatakan bahwa sains merupakan suatu sistem yang saling berhubungan dari metode-metode atau proses-proses yang digunakan untuk menyelidiki, memahami, dan menjelaskan alam semesta.

Dinamika perubahan dan pengembangan teori-teori pembelajaran sangat cepat dan sangat produktif, sehingga pembaharuan pendidikan sudah mengalami percepatan siklus dari sepuluh tahunan, pada lima tahunan. Aspek-aspek yang senantiasa menjadi perhatian para akademisi pendidikan antara lain kurikulum, metode dan strategi pembelajaran, penilaian, dan pengolahan pendidikan.

Paradigma yang di usung dalam perubahan-perubahan tersebut adalah demokratisasi penyelenggaraan pendidikan yang memperkuat pelibatan siswa, guru, orang tua dan masyarakat dalam berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian dari Manusia?

2.      Bagaimana Peran Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia?

3.      Apa saja dan Bagaimana Model Dalam Pembelajaran Memanusiakan Manusia?


 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Manusia

(Wikimedia Project, 2022) Manusia (Homo sapiens) adalah spesies primata yang berasal dan tinggal di Bumi dengan populasi terbesar, persebaran yang paling luas, dan dicirikan dengan kemampuannya untuk berjalan di atas dua kaki, serta otak yang kompleks yang mampu membuat peralatan, budaya, dan bahasa yang rumit.

Kebanyakan manusia hidup dalam struktur sosial yang terdiri atas kelompok-kelompok tertentu yang pada gilirannya dapat bersaing atau membantu satu sama lain mulai dari kelompok keluarga kecil dengan hubungan kekerabatan hingga kelompok politik yang besar atau negara. Interaksi sosial antarmanusia membuat keberagaman nilai, norma, dan ritual di dalam masyarakat manusia. Keinginan manusia untuk tahu dan memengaruhi lingkungan sekitarnya memunculkan perkembangan dalam filsafat, ilmu pengetahuan, mitologi, dan agama. Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balig, pemuda/i, dewasa, dan orang tua.[1]

(sada, 2017)Manusia adalah makhluk Allah SWT, diciptakan dalam keadaan sempurna bentuk yang. Manusia adalah makhluk spiritual yang akan mengalami berbagai fase peristiwa dalam hidupnya sebelum lahir, sekarang, atau setelah kematian. Kalimat ini mungkin terkesan terlalu filosofis, namun sebenarnya merupakan istilah yang mudah dipahami. Spiritual merupakan aspek psikologis yang kemudian mampu memberikan kekuatan kepada masyarakat untuk lebih mampu memahami kehidupan. Interest Man diciptakan untuk mengimplementasikan nilai-nilai ketuhanan yang banyak mengandung manfaat serius dalam kehidupan. Manusia mengemban amanah misi dari Allah SWT. yang harus diimplementasikan dalam aktivitas kehidupan nyata.

Sedangkan kedekatan hubungan manusia dengan Islam manusia memiliki tugas utama yaitu beribadah hanya kepada Tuhan. Segala bentuk ibadah yang dilakukan manusia dengan berbagai cara, semua itu akan kembali hanya kepada kita. Tunduk dan taat kepada Allah, dengan menjadi khalifah mengamalkan agamanya, dan beberapa hal lainnya mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil termasuk ibadah bukanlah sesuatu yang ringan, bisa dilakukan dengan main-main apalagi mengingkarinya. Butuh usaha ekstra, dan semangat yang kuat saat iman melemah, dan tanggung jawab yang sangat besar di kemudian hari di hari kiamat atas apa yang telah kita lakukan di dunia.[2]

B.     Peran Pendidikan Dalam Memanusiakan Manusia

(Taliak, 2018)Pendidikan dalam pembangunan manusia dan memanusiakan manusia tentunya diharapkan dapat dilakukan melalui proses pendidikan (sekolah) yang diikuti oleh peserta didik pada khususnya tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya. Masyarakat sebagai pendukung dan pelaksana pendidikan itu sendiri harus memberikan motivasi. Oleh karena itu, melalui lembaga pendidikan (sekolah) baik negeri maupun swasta, masyarakat pada umumnya, tetapi juga peserta didik dibekali dengan “pendidikan nilai” sebagai bagian integral dari diri kita sebagai manusia. Dengan “Pendidikan Nilai” dapat memanusiakan manusia dalam konteksnya. “Nilai-Nilai” Baik yang dibangun dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Nilai menjadi prioritas utama bagi pendidik dalam menjalankan tugas utamanya, baik di rumah sebagai orang tua, tetapi juga di sekolah sebagai guru.[3]

(Christiana, 2013)Pendidikan membantu manusia untuk menyempurnakan dirinya sebagai manusia. Pendidikan dan menjadi manusia adalah bagian integral, terlepas dari apa tujuan atau harapan untuk masa depan. Kemanusiaan menjadi bagian penting dari misi pendidikan. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan khusus. Segala sesuatu yang dilakukan manusia berasal dari anugerah alam, anugerah sempurna Sang Pencipta berupa tubuh, jiwa, pikiran, dan perasaan. Kesempurnaan manusia ada pada kodrat kemanusiaannya, bukan pada usahanya melainkan sebagai anugerah Sang Pencipta. Kesempurnaan manusia dalam dimensi manusia ada dalam ketidaksempurnaan manusia. Kesempurnaan pada tubuh yang tidak sempurna adalah memiliki kelemahan, dapat merasakan sakit, memiliki batas kemampuan dan daya tahan tubuh. Kesempurnaan dalam jiwa yang bersemangat adalah penuh gairah dan rapuh dan bisa mati sebelum waktunya. Kesempurnaan dalam perasaan adalah bisa marah, sedih, kecewa, gembira. Kesempurnaan dalam pikiran adalah dapat memikirkan hal-hal yang membangun dan menghancurkan, mencipta dan menghancurkan. Pendidikan berperan dalam pilihan manusia, penghancuran/pembangunan manusia, yang menghancurkan atau membangun, yang membunuh atau menghidupkan, yang mencipta atau menghancurkan. Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan dengan model pendidikan yang berkembang pada dimensi ruang pengembangan kemanusiaan menuju perwujudan tertinggi dari setiap dimensi, ruang kebebasan, dan ruang refleksi pribadi atau kelompok.[4]

C.    Model Pembelajaran Dalam Memanusiakan Manusia

(Arifin, 2020)Pendidikan dimulai sejak manusia dilahirkan. Pernyataan itu tidak sepenuhnya bisa dibenarkan, mengingat adanya asumsi lain yang layak dipertimbangkan bahwa pendidikan dimulai semenjak dalam kandungan. Terlepas dari perbedaan waktu, kedua asumsi tersebut menunjukan bahwa pendidikan merupakan bagian tidak terpisahkan dari manusia sepanjang zaman.

Dalam arti paling mendasar, pendidikan didefinisikan sebagai proses memanusiakan manusia, dalam artian manusia yang didudukan sebagai makhluk hidup dengan segala keunikannya serta tidak mereduksinya menjadi objek yang tidak memiliki diri. Dengan kata lain, pendidikan sebagai proses pembentukan manusia yang berbudaya.

1.      Hominisasi dan humanisasi (memanusiakan manusia)

Istilah hominisasi dan humanisasi atau memanusiakan manusia muda merupakan rumusan filsafat pendidikan Driyarkara, yang mengarahkan pada proses kesadaran untuk memanusiakan manusia. Hominisasi adalah proses pemanusiaan pada umumnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, seperti binatang ataupun tumbuhan, manusia tidak akan sampai pada fase ‘ke-manusiawi-an-nya’ tanpa pendidikan. Lain halnya dengan binatang. Binatang tidak perlu pendidikan, karena pada hakikatnya tidak memiliki akal budi. Sedangkan humanisasi merupakan proses lanjutan setelah hominisasi.

Dalam proses ini manusia mampu mencapai perkembangan lebih lanjut,realisasi diri dalam laju budaya dan ilmu pengetahuan (Driyarkara,dalam, Rifqi, 2016).

Untuk melacak ciri-ciri pendidikan yang memiliki nuansa humanis menurut Driyarkara, dapat ditemukan dalam gagasannya tentang manusia yang telah disinggung sebelumnya. Singkat kata, pembentukan manusia-manusia yang memiliki keahlian saja tidak cukup. Keahlian idealnya harus dibarengi dengan pendidikan pribadi. Dalam istilah Driyarkara, “Pintar tanpa kesusilaan hanya akan menjadi minteri (menyalahgunakan kepandaian).

2.      Pendidikan sebagai Pemanusiaan Manusia

Pertanyaan yang terbesit dalam gagasan Driyarkara tentang memanusiakan manusia muda adalah mengapa harus manusia muda? Mengapa tidak manusia secara umum yang tanpa batasan usia? Apakah manusia tua tidak perlu dimanusiakan?. Kurang tepat rasanya kalau menafsirkan manusia muda menggunakan pendekatn kuantitatif. Manusia muda memiliki usia antara sekian sampai sekian. Namun lebih tepat, menafsirkan manusia muda menggunakan pendekatan kualitatif, manusia muda adalah manusia yang belum memiliki integrasi, dalam artian manusia yang belum mencapai tarap keutuhannya. Akan lebihjelas, jika menilik kembali gagasan Driyarkara tentang manusia. Driyarkara juga memiliki pandangan bahwa mendidik adalah membentuk manusia muda sehingga ia menjadi keseluruhan yang utuh sehingga ia merupakan integrasi (Sudiarja, dkk., ed. 2006:299).

Harus diakui bersama bahwa manusia adalah makhluk yang aneh. Manusia harus mengangkat dirinya untuk hidup dan berada sesuai dengan kodratnya. (Sudiarja, dkk., ed. 2006:376). Lain halnya dengan kucing. Kucing sudah ‘mengkucing’ sejak kelahiranya, sudah kodratnya sebagai kucing tanpa harus mengangkat dirinya menjadi kucing. Jadi, manusia harus memanusiakan dirinya. Perhatikan orang gila, pada dasarnya ia memang manusia secara umum hominisasi, namun apakah dia punya hasrat untuk memanusiakan dirinya humanisasi. Kalaulah manusia yang waras, dengan kemawasdiriannya, tatkala ia tidak punya hasrat untuk memanusiakan dirinya dengan pendidikan, maka tidak ada bedanya dengan orang gila.

Pendidikan sebagai pemanusiaan manusia muda selalu menjadi medium yang menemani pertumbuhan manusia dari bayi, bahkan emenjak dalam kandungan, untuk menjadi manusia yang mencapai integritasnya. Perlu digarisbawahi, manusia bukanlah sebatas makhluk biologis, melainkan seorang pribadi, seorang person, seorang subjek yang mengerti diri, menempatkan diri dalam situasi, mengambil sikap, menetukan arah hidupnya. Dengan kata lain, nasibnya ada pada tangannya sendiri. Itulah yang disebut oleh Driyarkara sebagai puncak dari proses yang selalu terjadi pada diri manusia.

Berbicara tentang hominisasi tidak bisa dilepaskan dari humanisasi. Bahkan menurut Driyarkara, membincang humanisasi saja sudah cukup. Namun tidak sesederhan itu, setiap istilah memiliki konsekuensinya tersendiri. Hominisasi membincang manusia secara umum sesuai dengan kodratnya. Humanisasi berbicara tentang perkembangnya menuju tingkat yang niscaya, melalui proses yang dinamis. Tidak ada perbincangan hominisasi tanpa humanisasi, tapi tidak sebaliknya. Selanjutnya, Driyarkara menjelaskan bahwa tingkat humanisasi merupakan tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Manusia mampu mengakat alam menjadi alam manusiawi , tanah menjadi ladang, tumbuh-tumbuhan menjadi tanaman, barang materi menjadi alat, rumah dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan manusia telah sampai pada taraf humanisasinya.

3.      Teknik Pembelajaran Orang Dewasa: Memanusiakan Manusia

Pembelajaran pada manusia sebagai orang dewasa dipertegas lagi oleh Ki Hajar Dewantara, yang merupakan pelopor pendidikan di Indonesia. Ia melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa, dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Pendidikan dewasa ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika hal ini berkelanjutan akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi. (Retno, 2007).

Dari uraian di atas nampak jelas arti penting kemandirian dan kebebasan, yang menegaskan bahwa guru hanyalah sebagai sarana untuk mengembangkan tujuan utama pendidikan yaitu kemampuan individu dalam mengaktualisasikan diri (Maslow, 1977)

4.      Efektifitas Pembelajaran: Memanusiakan Manusia

Untuk dapat lebih maksimal lagi dalam proses pembelajaran orang dewasa hal-hal yang dirumuskan adalah:

a.       Siswa dijadikan subjek pendidikan dan pusat proses pembelajaran,

b.      Teori aktivitas diri dan aktif-positif merupakan dasar dari proses pembelajaran,

c.       Tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa daripada tekanan pada penguasaan materi pelajaran,

d.      Kurikulum sekolah disusun dalam kerangka kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”,

e.       Perlunya secara rutin kontrol informal di kelas dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah-tengah arus deras individualisme,

f.        Hendaknya banyak diterapkan keaktif an berpikir dan berargumentasi dari pada sekedar menghafal atau mengingat-ingat saja, dan

g.      Pendidikan hendaknya mengembangkan kreativitas siswa. (Retno,2007).

Oleh karena itu, perlulah dipersiapkan pendidik yang fleksibel dalam profesinya. Lebih penting mengajarkan bagaimana belajar daripada apa yang dipelajari. Perlu dipertimbangkan juga kaitan antara bangunan sekolah, sistem pendidikan, serta guru dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas pembelajaran dan pendidikan. Guru harus menuntut dirinya untuk dapat menjadi figur teladan atau model bagi para peserta didik. Sistem kerja dibuat, dari berdasarkan waktu menjadi berdasarkan penampilan mutu kerja. Guru dipersiapkan dan dilatih sehingga. Mampu berperan seperti di dalam keluarga. Penting bagi guru untuk belajar mendengarkan, berkomunikasi, dan berelasi dengan seluruh anggota komunitas sekolah. Yang lebih penting lagi guru harus selalu berusaha “memperhitungkan” siswa dan mengkondisikan bahwa siswa itu penting, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri siswa.


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang membantu mengembangkan dan mengarahkan potensi peserta didik dengan tujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik dan menjadi manusia yang benar-benar sempurna baik dari aspek kecerdasan, emosional, spiritual, sikap, dan sebagainya dengan adanya bantuan dari orang tua dan guru karena seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai atau sifat kemanusiaannya. Oleh karena itu, sejak dahulu banyak manusia yang gagal menjadi manusia. Jadi, disinilah tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia.

B.     Saran

Demikianlah makalah yang saya buat ini, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi para pembaca. saya mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas, dimengerti, maupun kurang lugas. Karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan saya juga sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. kami ucapkan terimakasih atas perhatiannya.

 


 

Daftar Pustaka

 

(t.thn.).

Arifin, R. &. (2020). ANDRAGOGI Metode dan Teknik Memanusiakan Manusia. Bandung: Pusat Penelitian dan Penerbutan UIN SGD Bandung.

Bebas, W. E. (2022, Desember ). Manusia.

Christiana, E. (2013). Pendidikan yang Memanusiakan Manusia. Binus University, v4i1.

sada, H. J. (2017). Manusia dalam Perspsektif Agama Islam. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, V7i1.

Taliak, J. (2018). Pendidikan Nilai dalam Memanusiakan manusia. Tangkoleh Putai Membangun wawasan berteologi integralistik, V15i1.

Wikimedia Project. (2022, Desember jumat). Manusia.

 



[2]Al-Tadzkiyyah:Jurnal Pendidikan Islam diakses dari https://journal.binus.ac.id/index.php/Humaniora/article/view/3450 pada tanggal 31 Desember 2022

[3] Tangkoleh Putai, “Pendidikan dalam memanusiakan manusia”, diakses dari http://jurnal.iaknambon.ac.id/index.php/TP/article/view/4 pada tanggal 31 Desember 2022

[4]Binus University,Pendidikan yang Memanusiakan Manusia”, diakses dari https://journal.binus.ac.id/index.php/Humaniora/article/view/3450 pada tanggal 31 Desember 2022

 

 

Desain Pembelajaran ICT

  Dalam proses pembelajaran dikenal berbagai pola pembelajaran. Pola pembelajaran adalah model yang menggambarkan kedudukan dan peran guru s...