MAKALAH MEMANUSIAKAN MANUSIA
Diajuakan untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar-Dasar Komputer dan Jaringan
Internet
Dosen Pengampu : Yan
Yan Nurjani, M.Pd
Disusun Oleh:
Susi (21210021)
PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AL-MUSADDADIYAH GARUT
2022M/1444H
Segala puji bagi
Allah, Tuhan semesta alam, Pelindung semua makhluk dan tempat mengadu semua
hamba yang beriman. Saya bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang telah diberikannya,
baik nikmat iman, nikmat Islam, nikmat ihsan dan nikmat diberikannya kesehatan
dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Memanusiakan
Manusia”.
Sholawat
bertangkaikan salam ditunjukan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, manusia
teladan (Uswah Hasanah) untuk setiap tindakan yang kita lakukan. Tidak lupa
ditunjukan untuk keluarganya para sahabatnya, para tabiin atbauttabiin, hingga
sampailah kepada kita yang mudah mudahan mendapatkan safaatnya nanti di Yaumil
Qiyamah, Aaamin.
Adapun tujuan
penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi Tugas pak Yan Yan Nurjani M.Pd
selaku dosen pada bidang studi Daskomnet. Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan tentang “Memanusiakan Manusia” bagi para pembaca
dan juga bagi saya selaku penulis.
Saya juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak teman seperjuangan yang telah
membagi sebagian pengetahuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini. Bagi saya sebagai penulis merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya.
Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca
demi kesempurnaan makalah ini.
Garut, 31 Desember 2022
Pendidikan adalah upaya manusia untuk “memanusiakan manusia”. Manusia
pada hakikatnya adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibandingkan makhluk
lain ciptaan-Nya disebabkan memiliki kemampuan berbahasa dan akal
pikiran/rasio, sehingga manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia
yang berbudaya. Kemampuan mengembangkan diri dilakukan melalui interaksi dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Sains berasal
dari kata science yaitu istilah yang mengacu pada masalahmasalah kealaman
(nature). secara sederhana sains didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang gejala-gejala alam. Sains juga merupakan bagian dari ilmu
pengetahuan yang terdiri dari fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan
teori-teori yang merupakan produk dari proses ilmiah.
Namun demikian
sebenarnya sains bukan hanya sebuah produk, melainkan juga sebagai proses yang
menghubungkan sistem, metode atau proses pengamatan, pemahaman dan penjelasan
tentang alam, seperti yang di tulis dalam salah satu situs internet yang
menyatakan bahwa sains merupakan suatu sistem yang saling berhubungan dari
metode-metode atau proses-proses yang digunakan untuk menyelidiki, memahami,
dan menjelaskan alam semesta.
Dinamika
perubahan dan pengembangan teori-teori pembelajaran sangat cepat dan sangat
produktif, sehingga pembaharuan pendidikan sudah mengalami percepatan siklus
dari sepuluh tahunan, pada lima tahunan. Aspek-aspek yang senantiasa menjadi
perhatian para akademisi pendidikan antara lain kurikulum, metode dan strategi
pembelajaran, penilaian, dan pengolahan pendidikan.
Paradigma yang
di usung dalam perubahan-perubahan tersebut adalah demokratisasi
penyelenggaraan pendidikan yang memperkuat pelibatan siswa, guru, orang tua dan
masyarakat dalam berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan.
1.
Apa Pengertian dari Manusia?
2.
Bagaimana Peran Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia?
3.
Apa saja dan Bagaimana Model Dalam Pembelajaran Memanusiakan
Manusia?
(Wikimedia Project, 2022) Manusia (Homo
sapiens) adalah spesies primata yang berasal dan tinggal di Bumi dengan
populasi terbesar, persebaran yang paling luas, dan dicirikan dengan
kemampuannya untuk berjalan di atas dua kaki, serta otak yang kompleks yang
mampu membuat peralatan, budaya, dan bahasa yang rumit.
Kebanyakan manusia hidup dalam
struktur sosial yang terdiri atas kelompok-kelompok tertentu yang pada
gilirannya dapat bersaing atau membantu satu sama lain mulai dari kelompok
keluarga kecil dengan hubungan kekerabatan hingga kelompok politik yang besar
atau negara. Interaksi sosial antarmanusia membuat keberagaman nilai, norma,
dan ritual di dalam masyarakat manusia. Keinginan manusia untuk tahu dan
memengaruhi lingkungan sekitarnya memunculkan perkembangan dalam filsafat, ilmu
pengetahuan, mitologi, dan agama. Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia,
mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balig, pemuda/i,
dewasa, dan orang tua.
(sada, 2017)Manusia adalah
makhluk Allah SWT, diciptakan dalam keadaan sempurna bentuk yang. Manusia
adalah makhluk spiritual yang akan mengalami berbagai fase peristiwa dalam
hidupnya sebelum lahir, sekarang, atau setelah kematian. Kalimat ini mungkin
terkesan terlalu filosofis, namun sebenarnya merupakan istilah yang mudah
dipahami. Spiritual merupakan aspek psikologis yang kemudian mampu memberikan
kekuatan kepada masyarakat untuk lebih mampu memahami kehidupan. Interest Man
diciptakan untuk mengimplementasikan nilai-nilai ketuhanan yang banyak mengandung
manfaat serius dalam kehidupan. Manusia mengemban amanah misi dari Allah SWT.
yang harus diimplementasikan dalam aktivitas kehidupan nyata.
Sedangkan kedekatan hubungan manusia dengan
Islam manusia memiliki tugas utama yaitu beribadah hanya kepada Tuhan. Segala
bentuk ibadah yang dilakukan manusia dengan berbagai cara, semua itu akan
kembali hanya kepada kita. Tunduk dan taat kepada Allah, dengan menjadi
khalifah mengamalkan agamanya, dan beberapa hal lainnya mulai dari yang
terbesar hingga yang terkecil termasuk ibadah bukanlah sesuatu yang ringan,
bisa dilakukan dengan main-main apalagi mengingkarinya. Butuh usaha ekstra, dan
semangat yang kuat saat iman melemah, dan tanggung jawab yang sangat besar di
kemudian hari di hari kiamat atas apa yang telah kita lakukan di dunia.
(Taliak, 2018)Pendidikan dalam pembangunan manusia dan
memanusiakan manusia tentunya diharapkan dapat dilakukan melalui proses
pendidikan (sekolah) yang diikuti oleh peserta didik pada khususnya tetapi juga
bagi masyarakat pada umumnya. Masyarakat sebagai pendukung dan pelaksana
pendidikan itu sendiri harus memberikan motivasi. Oleh karena itu, melalui
lembaga pendidikan (sekolah) baik negeri maupun swasta, masyarakat pada
umumnya, tetapi juga peserta didik dibekali dengan “pendidikan nilai” sebagai
bagian integral dari diri kita sebagai manusia. Dengan “Pendidikan Nilai” dapat
memanusiakan manusia dalam konteksnya. “Nilai-Nilai” Baik yang dibangun dalam
keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Nilai menjadi prioritas utama bagi
pendidik dalam menjalankan tugas utamanya, baik di rumah sebagai orang tua,
tetapi juga di sekolah sebagai guru.
(Christiana, 2013)Pendidikan membantu manusia untuk
menyempurnakan dirinya sebagai manusia. Pendidikan dan menjadi manusia adalah
bagian integral, terlepas dari apa tujuan atau harapan untuk masa depan.
Kemanusiaan menjadi bagian penting dari misi pendidikan. Manusia adalah makhluk
yang memiliki kemampuan khusus. Segala sesuatu yang dilakukan manusia berasal
dari anugerah alam, anugerah sempurna Sang Pencipta berupa tubuh, jiwa,
pikiran, dan perasaan. Kesempurnaan manusia ada pada kodrat kemanusiaannya,
bukan pada usahanya melainkan sebagai anugerah Sang Pencipta. Kesempurnaan
manusia dalam dimensi manusia ada dalam ketidaksempurnaan manusia. Kesempurnaan
pada tubuh yang tidak sempurna adalah memiliki kelemahan, dapat merasakan
sakit, memiliki batas kemampuan dan daya tahan tubuh. Kesempurnaan dalam jiwa
yang bersemangat adalah penuh gairah dan rapuh dan bisa mati sebelum waktunya.
Kesempurnaan dalam perasaan adalah bisa marah, sedih, kecewa, gembira.
Kesempurnaan dalam pikiran adalah dapat memikirkan hal-hal yang membangun dan menghancurkan,
mencipta dan menghancurkan. Pendidikan berperan dalam pilihan manusia,
penghancuran/pembangunan manusia, yang menghancurkan atau membangun, yang
membunuh atau menghidupkan, yang mencipta atau menghancurkan. Pendidikan yang
memanusiakan manusia adalah pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan
dengan model pendidikan yang berkembang pada dimensi ruang pengembangan
kemanusiaan menuju perwujudan tertinggi dari setiap dimensi, ruang kebebasan,
dan ruang refleksi pribadi atau kelompok.
(Arifin, 2020)Pendidikan dimulai
sejak manusia dilahirkan. Pernyataan itu tidak sepenuhnya bisa dibenarkan,
mengingat adanya asumsi lain yang layak dipertimbangkan bahwa pendidikan
dimulai semenjak dalam kandungan. Terlepas dari perbedaan waktu, kedua asumsi
tersebut menunjukan bahwa pendidikan merupakan bagian tidak terpisahkan dari
manusia sepanjang zaman.
Dalam arti paling mendasar,
pendidikan didefinisikan sebagai proses memanusiakan manusia, dalam artian
manusia yang didudukan sebagai makhluk hidup dengan segala keunikannya serta
tidak mereduksinya menjadi objek yang tidak memiliki diri. Dengan kata lain, pendidikan
sebagai proses pembentukan manusia yang berbudaya.
1. Hominisasi dan humanisasi (memanusiakan
manusia)
Istilah hominisasi dan humanisasi atau
memanusiakan manusia muda merupakan rumusan filsafat pendidikan Driyarkara,
yang mengarahkan pada proses kesadaran untuk memanusiakan manusia. Hominisasi
adalah proses pemanusiaan pada umumnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya,
seperti binatang ataupun tumbuhan, manusia tidak akan sampai pada fase
‘ke-manusiawi-an-nya’ tanpa pendidikan. Lain halnya dengan binatang. Binatang
tidak perlu pendidikan, karena pada hakikatnya tidak memiliki akal budi. Sedangkan
humanisasi merupakan proses lanjutan setelah hominisasi.
Dalam
proses ini manusia mampu mencapai perkembangan lebih lanjut,realisasi diri
dalam laju budaya dan ilmu pengetahuan (Driyarkara,dalam, Rifqi, 2016).
Untuk melacak ciri-ciri pendidikan yang
memiliki nuansa humanis menurut Driyarkara, dapat ditemukan dalam gagasannya tentang
manusia yang telah disinggung sebelumnya. Singkat kata, pembentukan
manusia-manusia yang memiliki keahlian saja tidak cukup. Keahlian idealnya
harus dibarengi dengan pendidikan pribadi. Dalam istilah Driyarkara, “Pintar
tanpa kesusilaan hanya akan menjadi minteri (menyalahgunakan kepandaian).
2. Pendidikan sebagai Pemanusiaan Manusia
Pertanyaan yang terbesit dalam gagasan
Driyarkara tentang memanusiakan manusia muda adalah mengapa harus manusia muda?
Mengapa tidak manusia secara umum yang tanpa batasan usia? Apakah manusia tua
tidak perlu dimanusiakan?. Kurang tepat rasanya kalau menafsirkan manusia muda
menggunakan pendekatn kuantitatif. Manusia muda memiliki usia antara sekian
sampai sekian. Namun lebih tepat, menafsirkan manusia muda menggunakan pendekatan
kualitatif, manusia muda adalah manusia yang belum memiliki integrasi, dalam artian
manusia yang belum mencapai tarap keutuhannya. Akan lebihjelas, jika menilik
kembali gagasan Driyarkara tentang manusia. Driyarkara juga memiliki pandangan
bahwa mendidik adalah membentuk manusia muda sehingga ia menjadi keseluruhan
yang utuh sehingga ia merupakan integrasi (Sudiarja, dkk., ed. 2006:299).
Harus diakui bersama bahwa manusia adalah
makhluk yang aneh. Manusia harus mengangkat dirinya untuk hidup dan berada sesuai
dengan kodratnya. (Sudiarja, dkk., ed. 2006:376). Lain halnya dengan kucing.
Kucing sudah ‘mengkucing’ sejak kelahiranya, sudah kodratnya sebagai kucing
tanpa harus mengangkat dirinya menjadi kucing. Jadi, manusia harus memanusiakan
dirinya. Perhatikan orang gila, pada dasarnya ia memang manusia secara umum
hominisasi, namun apakah dia punya hasrat untuk memanusiakan dirinya humanisasi.
Kalaulah manusia yang waras, dengan kemawasdiriannya, tatkala ia tidak punya
hasrat untuk memanusiakan dirinya dengan pendidikan, maka tidak ada bedanya
dengan orang gila.
Pendidikan sebagai pemanusiaan manusia muda
selalu menjadi medium yang menemani pertumbuhan manusia dari bayi, bahkan
emenjak dalam kandungan, untuk menjadi manusia yang mencapai integritasnya.
Perlu digarisbawahi, manusia bukanlah sebatas makhluk biologis, melainkan
seorang pribadi, seorang person, seorang subjek yang mengerti diri, menempatkan
diri dalam situasi, mengambil sikap, menetukan arah hidupnya. Dengan kata lain,
nasibnya ada pada tangannya sendiri. Itulah yang disebut oleh Driyarkara
sebagai puncak dari proses yang selalu terjadi pada diri manusia.
Berbicara tentang hominisasi tidak bisa
dilepaskan dari humanisasi. Bahkan menurut Driyarkara, membincang humanisasi
saja sudah cukup. Namun tidak sesederhan itu, setiap istilah memiliki konsekuensinya
tersendiri. Hominisasi membincang manusia secara umum sesuai dengan kodratnya.
Humanisasi berbicara tentang perkembangnya menuju tingkat yang niscaya, melalui
proses yang dinamis. Tidak ada perbincangan hominisasi tanpa humanisasi, tapi tidak
sebaliknya. Selanjutnya, Driyarkara menjelaskan bahwa tingkat humanisasi
merupakan tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Manusia mampu mengakat alam
menjadi alam manusiawi , tanah menjadi ladang, tumbuh-tumbuhan menjadi tanaman,
barang materi menjadi alat, rumah dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan
manusia telah sampai pada taraf humanisasinya.
3. Teknik Pembelajaran Orang Dewasa: Memanusiakan
Manusia
Pembelajaran
pada manusia sebagai orang dewasa dipertegas lagi oleh Ki Hajar Dewantara, yang
merupakan pelopor pendidikan di Indonesia. Ia melihat manusia lebih pada sisi
kehidupan psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa,
dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya
secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja
akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan
bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan
peserta didik dari masyarakatnya. Pendidikan dewasa ini hanya menekankan pada
pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan
karsa. Jika hal ini berkelanjutan akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.
(Retno, 2007).
Dari
uraian di atas nampak jelas arti penting kemandirian dan kebebasan, yang
menegaskan bahwa guru hanyalah sebagai sarana untuk mengembangkan tujuan utama
pendidikan yaitu kemampuan individu dalam mengaktualisasikan diri (Maslow,
1977)
4. Efektifitas Pembelajaran: Memanusiakan Manusia
Untuk dapat lebih maksimal lagi dalam proses
pembelajaran orang dewasa hal-hal yang dirumuskan adalah:
a. Siswa dijadikan subjek pendidikan dan pusat
proses pembelajaran,
b. Teori aktivitas diri dan aktif-positif
merupakan dasar dari proses pembelajaran,
c. Tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan
pertumbuhan dan perkembangan siswa daripada tekanan pada penguasaan materi pelajaran,
d. Kurikulum sekolah disusun dalam kerangka
kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”,
e. Perlunya secara rutin kontrol informal di kelas
dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah-tengah
arus deras individualisme,
f.
Hendaknya
banyak diterapkan keaktif an berpikir dan berargumentasi dari pada sekedar
menghafal atau mengingat-ingat saja, dan
g. Pendidikan hendaknya mengembangkan kreativitas
siswa. (Retno,2007).
Oleh karena itu, perlulah dipersiapkan pendidik
yang fleksibel dalam profesinya. Lebih penting mengajarkan bagaimana belajar daripada
apa yang dipelajari. Perlu dipertimbangkan juga kaitan antara bangunan sekolah,
sistem pendidikan, serta guru dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas
pembelajaran dan pendidikan. Guru harus menuntut dirinya untuk dapat menjadi
figur teladan atau model bagi para peserta didik. Sistem kerja dibuat, dari
berdasarkan waktu menjadi berdasarkan penampilan mutu kerja. Guru dipersiapkan
dan dilatih sehingga. Mampu berperan seperti di dalam keluarga. Penting bagi
guru untuk belajar mendengarkan, berkomunikasi, dan berelasi dengan seluruh anggota
komunitas sekolah. Yang lebih penting lagi guru harus selalu berusaha
“memperhitungkan” siswa dan mengkondisikan bahwa siswa itu penting, serta
menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri siswa.
Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang membantu
mengembangkan dan mengarahkan potensi peserta didik dengan tujuan menghidupkan
rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik dan
menjadi manusia yang benar-benar sempurna baik dari aspek kecerdasan,
emosional, spiritual, sikap, dan sebagainya dengan adanya bantuan dari orang
tua dan guru karena seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah
memiliki nilai atau sifat kemanusiaannya. Oleh karena itu, sejak dahulu banyak
manusia yang gagal menjadi manusia. Jadi, disinilah tujuan pendidikan yaitu
memanusiakan manusia.
Demikianlah makalah yang saya buat ini, semoga bermanfaat dan menambah
pengetahuan bagi para pembaca. saya mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan
dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas, dimengerti, maupun kurang
lugas. Karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan
saya juga sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini. kami ucapkan terimakasih atas perhatiannya.
(t.thn.).
Arifin, R. &. (2020). ANDRAGOGI Metode dan
Teknik Memanusiakan Manusia. Bandung: Pusat Penelitian dan Penerbutan UIN
SGD Bandung.
Bebas, W. E. (2022, Desember ). Manusia.
Christiana, E. (2013). Pendidikan yang Memanusiakan
Manusia. Binus University, v4i1.
sada, H. J. (2017). Manusia dalam Perspsektif Agama
Islam. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, V7i1.
Taliak, J. (2018). Pendidikan Nilai dalam
Memanusiakan manusia. Tangkoleh Putai Membangun wawasan berteologi
integralistik, V15i1.
Wikimedia Project. (2022, Desember jumat). Manusia.