Senin, 02 Januari 2023

Makalah Memanusiakan Manusia

 

MAKALAH MEMANUSIAKAN MANUSIA

Diajuakan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar-Dasar Komputer dan Jaringan Internet

Dosen Pengampu : Yan Yan Nurjani, M.Pd

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Susi (21210021)

 

 

 

 

 

 

PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)

AL-MUSADDADIYAH GARUT

2022M/1444H



Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Pelindung semua makhluk dan tempat mengadu semua hamba yang beriman. Saya bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang telah diberikannya, baik nikmat iman, nikmat Islam, nikmat ihsan dan nikmat diberikannya kesehatan dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Memanusiakan Manusia”.

Sholawat bertangkaikan salam ditunjukan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, manusia teladan (Uswah Hasanah) untuk setiap tindakan yang kita lakukan. Tidak lupa ditunjukan untuk keluarganya para sahabatnya, para tabiin atbauttabiin, hingga sampailah kepada kita yang mudah mudahan mendapatkan safaatnya nanti di Yaumil Qiyamah, Aaamin.

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi Tugas pak Yan Yan Nurjani M.Pd selaku dosen pada bidang studi Daskomnet. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang “Memanusiakan Manusia” bagi para pembaca dan juga bagi saya selaku penulis.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak teman seperjuangan yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Bagi saya sebagai penulis merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

Garut, 31 Desember 2022



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah upaya manusia untuk “memanusiakan manusia”. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibandingkan makhluk lain ciptaan-Nya disebabkan memiliki kemampuan berbahasa dan akal pikiran/rasio, sehingga manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia yang berbudaya. Kemampuan mengembangkan diri dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

Sains berasal dari kata science yaitu istilah yang mengacu pada masalahmasalah kealaman (nature). secara sederhana sains didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala alam. Sains juga merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang terdiri dari fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori-teori yang merupakan produk dari proses ilmiah.

Namun demikian sebenarnya sains bukan hanya sebuah produk, melainkan juga sebagai proses yang menghubungkan sistem, metode atau proses pengamatan, pemahaman dan penjelasan tentang alam, seperti yang di tulis dalam salah satu situs internet yang menyatakan bahwa sains merupakan suatu sistem yang saling berhubungan dari metode-metode atau proses-proses yang digunakan untuk menyelidiki, memahami, dan menjelaskan alam semesta.

Dinamika perubahan dan pengembangan teori-teori pembelajaran sangat cepat dan sangat produktif, sehingga pembaharuan pendidikan sudah mengalami percepatan siklus dari sepuluh tahunan, pada lima tahunan. Aspek-aspek yang senantiasa menjadi perhatian para akademisi pendidikan antara lain kurikulum, metode dan strategi pembelajaran, penilaian, dan pengolahan pendidikan.

Paradigma yang di usung dalam perubahan-perubahan tersebut adalah demokratisasi penyelenggaraan pendidikan yang memperkuat pelibatan siswa, guru, orang tua dan masyarakat dalam berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian dari Manusia?

2.      Bagaimana Peran Pendidikan dalam Memanusiakan Manusia?

3.      Apa saja dan Bagaimana Model Dalam Pembelajaran Memanusiakan Manusia?


 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Manusia

(Wikimedia Project, 2022) Manusia (Homo sapiens) adalah spesies primata yang berasal dan tinggal di Bumi dengan populasi terbesar, persebaran yang paling luas, dan dicirikan dengan kemampuannya untuk berjalan di atas dua kaki, serta otak yang kompleks yang mampu membuat peralatan, budaya, dan bahasa yang rumit.

Kebanyakan manusia hidup dalam struktur sosial yang terdiri atas kelompok-kelompok tertentu yang pada gilirannya dapat bersaing atau membantu satu sama lain mulai dari kelompok keluarga kecil dengan hubungan kekerabatan hingga kelompok politik yang besar atau negara. Interaksi sosial antarmanusia membuat keberagaman nilai, norma, dan ritual di dalam masyarakat manusia. Keinginan manusia untuk tahu dan memengaruhi lingkungan sekitarnya memunculkan perkembangan dalam filsafat, ilmu pengetahuan, mitologi, dan agama. Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balig, pemuda/i, dewasa, dan orang tua.[1]

(sada, 2017)Manusia adalah makhluk Allah SWT, diciptakan dalam keadaan sempurna bentuk yang. Manusia adalah makhluk spiritual yang akan mengalami berbagai fase peristiwa dalam hidupnya sebelum lahir, sekarang, atau setelah kematian. Kalimat ini mungkin terkesan terlalu filosofis, namun sebenarnya merupakan istilah yang mudah dipahami. Spiritual merupakan aspek psikologis yang kemudian mampu memberikan kekuatan kepada masyarakat untuk lebih mampu memahami kehidupan. Interest Man diciptakan untuk mengimplementasikan nilai-nilai ketuhanan yang banyak mengandung manfaat serius dalam kehidupan. Manusia mengemban amanah misi dari Allah SWT. yang harus diimplementasikan dalam aktivitas kehidupan nyata.

Sedangkan kedekatan hubungan manusia dengan Islam manusia memiliki tugas utama yaitu beribadah hanya kepada Tuhan. Segala bentuk ibadah yang dilakukan manusia dengan berbagai cara, semua itu akan kembali hanya kepada kita. Tunduk dan taat kepada Allah, dengan menjadi khalifah mengamalkan agamanya, dan beberapa hal lainnya mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil termasuk ibadah bukanlah sesuatu yang ringan, bisa dilakukan dengan main-main apalagi mengingkarinya. Butuh usaha ekstra, dan semangat yang kuat saat iman melemah, dan tanggung jawab yang sangat besar di kemudian hari di hari kiamat atas apa yang telah kita lakukan di dunia.[2]

B.     Peran Pendidikan Dalam Memanusiakan Manusia

(Taliak, 2018)Pendidikan dalam pembangunan manusia dan memanusiakan manusia tentunya diharapkan dapat dilakukan melalui proses pendidikan (sekolah) yang diikuti oleh peserta didik pada khususnya tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya. Masyarakat sebagai pendukung dan pelaksana pendidikan itu sendiri harus memberikan motivasi. Oleh karena itu, melalui lembaga pendidikan (sekolah) baik negeri maupun swasta, masyarakat pada umumnya, tetapi juga peserta didik dibekali dengan “pendidikan nilai” sebagai bagian integral dari diri kita sebagai manusia. Dengan “Pendidikan Nilai” dapat memanusiakan manusia dalam konteksnya. “Nilai-Nilai” Baik yang dibangun dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Nilai menjadi prioritas utama bagi pendidik dalam menjalankan tugas utamanya, baik di rumah sebagai orang tua, tetapi juga di sekolah sebagai guru.[3]

(Christiana, 2013)Pendidikan membantu manusia untuk menyempurnakan dirinya sebagai manusia. Pendidikan dan menjadi manusia adalah bagian integral, terlepas dari apa tujuan atau harapan untuk masa depan. Kemanusiaan menjadi bagian penting dari misi pendidikan. Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan khusus. Segala sesuatu yang dilakukan manusia berasal dari anugerah alam, anugerah sempurna Sang Pencipta berupa tubuh, jiwa, pikiran, dan perasaan. Kesempurnaan manusia ada pada kodrat kemanusiaannya, bukan pada usahanya melainkan sebagai anugerah Sang Pencipta. Kesempurnaan manusia dalam dimensi manusia ada dalam ketidaksempurnaan manusia. Kesempurnaan pada tubuh yang tidak sempurna adalah memiliki kelemahan, dapat merasakan sakit, memiliki batas kemampuan dan daya tahan tubuh. Kesempurnaan dalam jiwa yang bersemangat adalah penuh gairah dan rapuh dan bisa mati sebelum waktunya. Kesempurnaan dalam perasaan adalah bisa marah, sedih, kecewa, gembira. Kesempurnaan dalam pikiran adalah dapat memikirkan hal-hal yang membangun dan menghancurkan, mencipta dan menghancurkan. Pendidikan berperan dalam pilihan manusia, penghancuran/pembangunan manusia, yang menghancurkan atau membangun, yang membunuh atau menghidupkan, yang mencipta atau menghancurkan. Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan dengan model pendidikan yang berkembang pada dimensi ruang pengembangan kemanusiaan menuju perwujudan tertinggi dari setiap dimensi, ruang kebebasan, dan ruang refleksi pribadi atau kelompok.[4]

C.    Model Pembelajaran Dalam Memanusiakan Manusia

(Arifin, 2020)Pendidikan dimulai sejak manusia dilahirkan. Pernyataan itu tidak sepenuhnya bisa dibenarkan, mengingat adanya asumsi lain yang layak dipertimbangkan bahwa pendidikan dimulai semenjak dalam kandungan. Terlepas dari perbedaan waktu, kedua asumsi tersebut menunjukan bahwa pendidikan merupakan bagian tidak terpisahkan dari manusia sepanjang zaman.

Dalam arti paling mendasar, pendidikan didefinisikan sebagai proses memanusiakan manusia, dalam artian manusia yang didudukan sebagai makhluk hidup dengan segala keunikannya serta tidak mereduksinya menjadi objek yang tidak memiliki diri. Dengan kata lain, pendidikan sebagai proses pembentukan manusia yang berbudaya.

1.      Hominisasi dan humanisasi (memanusiakan manusia)

Istilah hominisasi dan humanisasi atau memanusiakan manusia muda merupakan rumusan filsafat pendidikan Driyarkara, yang mengarahkan pada proses kesadaran untuk memanusiakan manusia. Hominisasi adalah proses pemanusiaan pada umumnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, seperti binatang ataupun tumbuhan, manusia tidak akan sampai pada fase ‘ke-manusiawi-an-nya’ tanpa pendidikan. Lain halnya dengan binatang. Binatang tidak perlu pendidikan, karena pada hakikatnya tidak memiliki akal budi. Sedangkan humanisasi merupakan proses lanjutan setelah hominisasi.

Dalam proses ini manusia mampu mencapai perkembangan lebih lanjut,realisasi diri dalam laju budaya dan ilmu pengetahuan (Driyarkara,dalam, Rifqi, 2016).

Untuk melacak ciri-ciri pendidikan yang memiliki nuansa humanis menurut Driyarkara, dapat ditemukan dalam gagasannya tentang manusia yang telah disinggung sebelumnya. Singkat kata, pembentukan manusia-manusia yang memiliki keahlian saja tidak cukup. Keahlian idealnya harus dibarengi dengan pendidikan pribadi. Dalam istilah Driyarkara, “Pintar tanpa kesusilaan hanya akan menjadi minteri (menyalahgunakan kepandaian).

2.      Pendidikan sebagai Pemanusiaan Manusia

Pertanyaan yang terbesit dalam gagasan Driyarkara tentang memanusiakan manusia muda adalah mengapa harus manusia muda? Mengapa tidak manusia secara umum yang tanpa batasan usia? Apakah manusia tua tidak perlu dimanusiakan?. Kurang tepat rasanya kalau menafsirkan manusia muda menggunakan pendekatn kuantitatif. Manusia muda memiliki usia antara sekian sampai sekian. Namun lebih tepat, menafsirkan manusia muda menggunakan pendekatan kualitatif, manusia muda adalah manusia yang belum memiliki integrasi, dalam artian manusia yang belum mencapai tarap keutuhannya. Akan lebihjelas, jika menilik kembali gagasan Driyarkara tentang manusia. Driyarkara juga memiliki pandangan bahwa mendidik adalah membentuk manusia muda sehingga ia menjadi keseluruhan yang utuh sehingga ia merupakan integrasi (Sudiarja, dkk., ed. 2006:299).

Harus diakui bersama bahwa manusia adalah makhluk yang aneh. Manusia harus mengangkat dirinya untuk hidup dan berada sesuai dengan kodratnya. (Sudiarja, dkk., ed. 2006:376). Lain halnya dengan kucing. Kucing sudah ‘mengkucing’ sejak kelahiranya, sudah kodratnya sebagai kucing tanpa harus mengangkat dirinya menjadi kucing. Jadi, manusia harus memanusiakan dirinya. Perhatikan orang gila, pada dasarnya ia memang manusia secara umum hominisasi, namun apakah dia punya hasrat untuk memanusiakan dirinya humanisasi. Kalaulah manusia yang waras, dengan kemawasdiriannya, tatkala ia tidak punya hasrat untuk memanusiakan dirinya dengan pendidikan, maka tidak ada bedanya dengan orang gila.

Pendidikan sebagai pemanusiaan manusia muda selalu menjadi medium yang menemani pertumbuhan manusia dari bayi, bahkan emenjak dalam kandungan, untuk menjadi manusia yang mencapai integritasnya. Perlu digarisbawahi, manusia bukanlah sebatas makhluk biologis, melainkan seorang pribadi, seorang person, seorang subjek yang mengerti diri, menempatkan diri dalam situasi, mengambil sikap, menetukan arah hidupnya. Dengan kata lain, nasibnya ada pada tangannya sendiri. Itulah yang disebut oleh Driyarkara sebagai puncak dari proses yang selalu terjadi pada diri manusia.

Berbicara tentang hominisasi tidak bisa dilepaskan dari humanisasi. Bahkan menurut Driyarkara, membincang humanisasi saja sudah cukup. Namun tidak sesederhan itu, setiap istilah memiliki konsekuensinya tersendiri. Hominisasi membincang manusia secara umum sesuai dengan kodratnya. Humanisasi berbicara tentang perkembangnya menuju tingkat yang niscaya, melalui proses yang dinamis. Tidak ada perbincangan hominisasi tanpa humanisasi, tapi tidak sebaliknya. Selanjutnya, Driyarkara menjelaskan bahwa tingkat humanisasi merupakan tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Manusia mampu mengakat alam menjadi alam manusiawi , tanah menjadi ladang, tumbuh-tumbuhan menjadi tanaman, barang materi menjadi alat, rumah dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan manusia telah sampai pada taraf humanisasinya.

3.      Teknik Pembelajaran Orang Dewasa: Memanusiakan Manusia

Pembelajaran pada manusia sebagai orang dewasa dipertegas lagi oleh Ki Hajar Dewantara, yang merupakan pelopor pendidikan di Indonesia. Ia melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa, dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Pendidikan dewasa ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika hal ini berkelanjutan akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi. (Retno, 2007).

Dari uraian di atas nampak jelas arti penting kemandirian dan kebebasan, yang menegaskan bahwa guru hanyalah sebagai sarana untuk mengembangkan tujuan utama pendidikan yaitu kemampuan individu dalam mengaktualisasikan diri (Maslow, 1977)

4.      Efektifitas Pembelajaran: Memanusiakan Manusia

Untuk dapat lebih maksimal lagi dalam proses pembelajaran orang dewasa hal-hal yang dirumuskan adalah:

a.       Siswa dijadikan subjek pendidikan dan pusat proses pembelajaran,

b.      Teori aktivitas diri dan aktif-positif merupakan dasar dari proses pembelajaran,

c.       Tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa daripada tekanan pada penguasaan materi pelajaran,

d.      Kurikulum sekolah disusun dalam kerangka kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”,

e.       Perlunya secara rutin kontrol informal di kelas dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah-tengah arus deras individualisme,

f.        Hendaknya banyak diterapkan keaktif an berpikir dan berargumentasi dari pada sekedar menghafal atau mengingat-ingat saja, dan

g.      Pendidikan hendaknya mengembangkan kreativitas siswa. (Retno,2007).

Oleh karena itu, perlulah dipersiapkan pendidik yang fleksibel dalam profesinya. Lebih penting mengajarkan bagaimana belajar daripada apa yang dipelajari. Perlu dipertimbangkan juga kaitan antara bangunan sekolah, sistem pendidikan, serta guru dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas pembelajaran dan pendidikan. Guru harus menuntut dirinya untuk dapat menjadi figur teladan atau model bagi para peserta didik. Sistem kerja dibuat, dari berdasarkan waktu menjadi berdasarkan penampilan mutu kerja. Guru dipersiapkan dan dilatih sehingga. Mampu berperan seperti di dalam keluarga. Penting bagi guru untuk belajar mendengarkan, berkomunikasi, dan berelasi dengan seluruh anggota komunitas sekolah. Yang lebih penting lagi guru harus selalu berusaha “memperhitungkan” siswa dan mengkondisikan bahwa siswa itu penting, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri siswa.


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang membantu mengembangkan dan mengarahkan potensi peserta didik dengan tujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik dan menjadi manusia yang benar-benar sempurna baik dari aspek kecerdasan, emosional, spiritual, sikap, dan sebagainya dengan adanya bantuan dari orang tua dan guru karena seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai atau sifat kemanusiaannya. Oleh karena itu, sejak dahulu banyak manusia yang gagal menjadi manusia. Jadi, disinilah tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia.

B.     Saran

Demikianlah makalah yang saya buat ini, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi para pembaca. saya mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas, dimengerti, maupun kurang lugas. Karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan saya juga sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. kami ucapkan terimakasih atas perhatiannya.

 


 

Daftar Pustaka

 

(t.thn.).

Arifin, R. &. (2020). ANDRAGOGI Metode dan Teknik Memanusiakan Manusia. Bandung: Pusat Penelitian dan Penerbutan UIN SGD Bandung.

Bebas, W. E. (2022, Desember ). Manusia.

Christiana, E. (2013). Pendidikan yang Memanusiakan Manusia. Binus University, v4i1.

sada, H. J. (2017). Manusia dalam Perspsektif Agama Islam. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, V7i1.

Taliak, J. (2018). Pendidikan Nilai dalam Memanusiakan manusia. Tangkoleh Putai Membangun wawasan berteologi integralistik, V15i1.

Wikimedia Project. (2022, Desember jumat). Manusia.

 



[2]Al-Tadzkiyyah:Jurnal Pendidikan Islam diakses dari https://journal.binus.ac.id/index.php/Humaniora/article/view/3450 pada tanggal 31 Desember 2022

[3] Tangkoleh Putai, “Pendidikan dalam memanusiakan manusia”, diakses dari http://jurnal.iaknambon.ac.id/index.php/TP/article/view/4 pada tanggal 31 Desember 2022

[4]Binus University,Pendidikan yang Memanusiakan Manusia”, diakses dari https://journal.binus.ac.id/index.php/Humaniora/article/view/3450 pada tanggal 31 Desember 2022

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desain Pembelajaran ICT

  Dalam proses pembelajaran dikenal berbagai pola pembelajaran. Pola pembelajaran adalah model yang menggambarkan kedudukan dan peran guru s...